Israel Masuk Jantung Kota Gaza, Warga Tetap Tolak Pemerintah Abbas

0

Jakarta – Militer Israel sudah berada di jantung Kota Gaza sejak Rabu (8/11) dan terlibat pertempuran jarak dekat dengan milisi Hamas.

Sementara itu puluhan ribu warga Palestina yang berada di utara Jalur Gaza juga telah mengevakuasi diri menuju selatan, sambil berjalan kaki, dan membawa bendera putih.

Berikut rangkuman Kilas Internasional hari ini Jumat (10/11).

  1. Pasukan Israel Masuk ke Jantung Kota Gaza Tempur Sengit dengan Hamas

Pertempuran jarak dekat tak terhindar antara Israel dan milisi Hamas, setelah Israel mengaku sudah masuk ke jantung Kota Gaza yang menjadi markas utama Hamas.

Salah satu komandan eksil Hamas, Saleh al-Arouri, mengatakan bahwa pasukan Israel mungkin menguasai beberapa wilayah di Gaza.

“Tetapi hal itu tidak akan menghentikan perjuangan perlawanan melawan tentara dan tank. Semakin banyak (Israel) menyebar dan memperluas wilayahnya, semakin besar kerugiannya,” ungkapnya.

  1. Derita Pengungsi Gaza: Naik Kereta Keledai, Lewati Tumpukan Mayat

Puluhan ribu warga Palestina dari utara Gaza berjalan kaki bermil-mil jauhnya menuju selatan, untuk mengungsi dari agresi Israel di tempat tinggal mereka.

Selama perjalanan itu, beberapa warga mengaku sejak rumah mereka musnah, tidak ada lagi barang yang tersisa. Mereka juga menyebut telah pindah beberapa kali sejak perang pecah awal Oktober lalu.

“Kami berjalan melewati orang-orang yang terkoyak, jenazah-jenazah. Kami berjalan di samping tank-tank. Israel memanggil kami dan mereka meminta orang-orang menanggalkan pakaian dan membuang barang-barang mereka. Anak-anak sangat lelah karena tidak ada air,” kata salah satu warga Palestina.

  1. Warga Gaza Tetap Tolak Pemerintah Abbas Jika Hamas Kalah

Warga Gaza menolak Pemerintah Otoritas Palestina (Palestinian Authority/PA) yang dipimpin oleh Mahmoud Abbas jika Hamas kalah dalam pemilu selanjutnya. Mereka tidak memercayai Abbas untuk kembali memimpin, terutama di wilayah Gaza.

Seorang warga bernama Kamal mengatakan salah salah satu alasannya karena perseteruan antara PA dan Hamas.

“PA tidak akan melindungi Gaza karena mereka berulang kali berpartisipasi dalam pengepungan dan menindas rakyat Gaza. Semua karena perselisihan dengan Hamas. Kami tidak percaya itu akan adil di Gaza,” kata Kamal, diberitakan Al Jazeera, Kamis (9/11).

“Presiden selalu memberikan pidato tentang Gaza dan tanggung jawabnya terhadap hal itu. Tapi, tidak ada aksi dari apa yang dia ucapkan,” pungkasnya.