PB HMI Dukung Permen Dikbud Ristek PPKS

0

Jakarta – PJ Ketua Umum PB HMI Romadhon JASN turut menanggapi polemik Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permen dikbud ristek) Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS).

Romadhon meminta seharusnya Permen dikbud ristek tersebut tak dipolemikan.

Sebaliknya harus didukung oleh semua pihak sebab kekerasan seksual dilingkungan perguruan tinggi marak terjadi dan sangat meresahkan sehingga Permendikbud tersebut dipandang urgen dan mendesak terutama bagi korban sehingga bisa membela diri.

“Seharusnya Permen dikbud ini didukung bukan dipolemikan, kekerasan seksual di kampus sudah darurat sehingga kami sangat mendukung Permendikbud sebagai perlindungan hukum bagi korban, bisa membela diri,” kata Romadhon JASN dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jum’at (12/11).

Lebih lanjut Romadhon, juga mempertanyakan pihak-pihak yang menolak Permen dikbud dengan argumen dan tuduhan yang tak berdasar apalagi kecenderungan menolak sama sekali tidak memikirkan nasib korban yang mengalami pelecehan dan kekerasan seksual serta tekanan batin secara psikis.

“Kalau Permen dikbud ini ditolak itu sama saja diam melihat kedzhaliman dan kemungkaran, dan itu tidak simpati terhadap korban namanya, masa iya kekerasan seksual dibiarkan, justru dengan Permendikbud ini melindungi korban dan menghukum kejahatan,” ujarnya

Romdhon juga menepis tuduhan beberapa pihak terutama terkait sebagian pasal yang dianggap melegalkan seks bebas.

Menurut dia, dalam aturan lanjutannya terdapat penjelasan tentang “tanpa persetujuan korban”. Frase “persetujuan” tidak dianggap sah jika korban tidak memenuhi syarat sebagaimana disebutkan dalam Permendikbudristek Nomor 30 tahun 2021.

Karena itu kata Romadhon, sangat mustahil apabila Permendikbud melegalkan seks bebas di negara yang sangat religius ini.

“Coba dicermati betul kan disitu ada aturan lanjutannya, yang jelas Permendikbud ini tidak melegalkan seks bebas, ini Indonesia negara religius ngak mungkin dan mustahil,” terang Romadhon