Quo Vadis 2 Dekade Partai Demokrat

0

Partai Demokrat baru saja merayakan dua puluh tahun hari kelahirannya. Ini usia yang terbilang cukup matang bagi sebuah partai politik. Apalagi Demokrat pernah menjadi partai penguasa (the ruling party) di Indonesia selama dua periode.

Sebagai partai politik, Demokrat juga mengalami pasang-surut. Pernah berjaya dan kemudian meredup, seperti teori siklusnya Ibnu Khaldun, dimana, Demokrat telah mengalami fase pertumbuhan, konsolidasi, puncak keemasan, pembusukan politik dan berakhir dengan keruntuhan.

Kira-kira inilah sebuah lintasan perjalanan Partai Demokrat. Meskipun Demokrat tidak hancur berkeping-keping, tapi menurunnya perolehan jumlah kursi Demokrat di dua pemilu terakhir seakan menconfirmasi bahwa partai yang dulunya sangat powerfull dan memiliki legitimasi kuat di pemerintahan harus terjun bebas dan menjadi partai papan tengah.

Tantangan dan Optimisme

Perjalanan panjang Partai Demokrat cukup berwarna. Bisa dibilang, satu-satunya partai politik di Indonesia yang sangat melejit diawal-awal pendiriannya adalah Demokrat.

Secara resmi partai yang dikenal erat dengan sosok Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan keluarganya ini didirikan pada tanggal 9 September 2001 dan memulai debut perdananya pada pemilu legislatif 2004.

Di pemilu legislatif 2004, Demokrat tampil sebagai partai baru yang menjanjikan. Melesat dengan cepat ke posisi lima besar (big five) seiring dengan naiknya popularitas SBY pada saat itu. Di tahun yang sama, Demokrat berhasil menjuarai pemilihan presiden (Pilpres) dengan tokoh sentralnya SBY sebagai capres.

Di periode pertama SBY sebagai presiden, popularitas Demokrat semakin tak terbendung, puncaknya pada pemilu legislatif 2009, Demokrat keluar sebagai partai pemenang dengan presentasi diatas 20 persen serta berhasil memastikan 150 jumlah kursi di parlemen.

Selain menang legislatif, Demokrat juga sukses mengantarkan SBY untuk menjadi presiden dua periode. Sebuah prestasi yang sangat prestisius dan membanggakan.

Tapi begitulah, kejayaan Demokrat mulai redup ketika dipenghujung masa periode SBY (2009-2014) berbagai masalah datang dan menggerogotinya dari dalam. Konflik antar kader semakin membesar dan sulit dikendalikan.

Kegagalannya Partai Demokrat di dua kali pemilu terakhir selain karena ada konflik internal yang belum selesai, positioning Demokrat dalam dua kali pilpres yang terkesan netral juga dianggap punya konstribusi besar terhadap performa elektoral partai.

Menurut saya, bila Demokrat ingin mengembalikan kejayaan partai seperti di masa lalu, Demokrat harus menegaskan positioning politiknya. Tidak boleh main aman, tapi lebih cenderung mengambil posisi dan melakukan konsolidasi yang lebih masif.

Pidato Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di acara ulang tahun ke-20 pasa Kamis (9/9/2021) kemarin soal posisi Demokrat sebagai partai oposisi dan memilih berkoalisi dengan rakyat harus betul-betul bisa dijalankan.

Jangan kemudian pidato itu hanya sebatas lips servis semata sehingga publik melihat Partai Demokrat sedang melakukan pencitraan politik untuk kepentingannya di pemilu 2024.

Kalau ini yang terjadi, maka optimisme kader sebagaimana disampaikan oleh AHY saat pidatonya kemarin akan runtuh dan menjadi preseden buruk bagi keberlangsungan dan masa depan partai kedepan.

Demokrat harus bisa memaksimalkan situasi politik saat ini dengan baik. Mengambil posisi sebagai partai oposisi itu sangat strategis karena dengan masuknya PAN dalam pemerintahan semakin membuat publik merasa ditinggalkan oleh partai-partai yang didukung oleh mereka saat pemilu 2019.

Hal ini ditambah dengan performa dan kinerja pemerintah Jokowi-Ma’ruf terbilang kurang baik, bahkan dibeberapa temuan survei, tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi cenderung menurun.

Dengan demikian, ekspektasi publik untuk partai-partai yang berada diluar pemerintahan juga cukup tinggi. Dan menurut saya, bila kita melihat tren survei dalam beberapa bulan terakhir, elektabilitas Demokrat cenderung naik secara signifikan.

Itu artinya, Demokrat dianggap mampu membranding dirinya sebagai partai oposisi dengan sangat baik sebagaimana yang pernah dilakukan oleh PDI Perjuangan dimasa pemerintahan SBY dulu.

VOI (Voters of Indonesia)

Peneliti
AB Solissa
+62 823-9734-4999