Dianggap Ciptakan Kegaduhan Karena Tak Percaya COVID-19, Dokter Lois Ditangkap Polisi

0

Jakarta – Dokter Lois Owien mendadak terkenal dan menjadi sorotan publik karena beberapa unggahan dia di media sosial yang menyatakan dirinya tidak percaya akan adanya Covid-19.

Dalam sebuah acara bincang-bincang bersama pengacara kondang hotman Paris, dokter Lois mengatakan tidak ada pasien yang meninggal karena terpapar virus corona. Yang ada justru pasien meninggal karena adanya interaksi obat yang berlebihan.

Dokter Lois menyebut bahwa obat-obatan yang digunakan untuk pasien Covid-19 telah menimbulkan komplikasi di dalam tubuh pasien sehingga mengakibatkan kematian bagi pasien itu sendiri.

“Interaksi antar obat. Kalau buka data di rumah sakit, itu pemberian obatnya lebih dari enam macam,” sebut dokter Lois.

Akibat pernyataannya itu, dokter Lois pun dipanggil Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Terkait hal ini, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) kemudian memanggilnya untuk mendapat klarifikasi.

Namun, dalam penelusuran awal, PB IDI menyatakan keanggotaan dokter Lois sudah lama kedaluwarsa di IDI.

“Keanggotaannya sudah lama kedaluwarsa,” ujar Daeng dalam keterangannya pada wartawan, Minggu (11/7/2021).

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan mengatakan, polisi telah menangkap dokter Lois Owien yang ramai diperbincangkan karena tidak percaya akan adanya Covid-19.

Ramadhan menyatakan, penangkapan dilakukan personel Polda Metro Jaya pada Minggu (11/7/2021).

“Iya, yang bersangkutan sudah ditangkap. Kemarin, yang menangkap (personel) PMJ,” kata Ramadhan.

Namun, dia belum bisa menjelaskan secara detail soal pasal undang-undang yang disangkakan kepada dokter Lois.

Ramadhan mengungkapkan, informasi lebih jelas akan disampaikan polisi pada Senin siang ini.

Lebih lanjut, dilaporkan bahwa kasus dokter Lois tersebut sudah dilimpahkan dari Polda Metro Jaya ke Mabes Polri.

“Kemarin (Minggu) diamankan Polda Metro dan dilimpahkan ke Mabes Polri,” kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono dalam keterangannya pada rekan-rekan media, Senin (12/7/2021).

Ditempat terpisah, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt menjelaskan bahwa interaksi obat adalah adanya pengaruh suatu obat terhadap efek obat lain, ketika digunakan bersama-sama pada seorang pasien.

“Interaksi obat itu memang sangat mungkin dijumpai. Bahkan, orang dengan satu penyakit saja, rata-rata ada yang membutuhkan lebih dari satu macam obat,” jelas Prof Zullies.

Terkait pernyataan dr Lois yang menyebut interaksi obat menjadi penyebab kematian pasien Covid-19, menurut Prof Zullies menekankan bahwa tidak semua interaksi obat itu berbahaya atau merugikan pasien.

Karena sifat interaksi itu bisa bersifat sinergis atau antagonis, bisa meningkatkan, atau mengurangi efek obat lain.

“Interaksi obat juga ada yang menguntungkan, dan ada yang merugikan. Jadi tidak bisa digeneralisir apalagi disamakan kasusnya, dan perlu dikaji secara individual,” ujar Prof Zullies.

Interaksi obat dapat merugikan apabila suatu obat menyebabkan obat lain berefek saat digunakan secara bersamaan.

Seperti obat hidroksiklorokuin yang sempat diajukan sebagai terapi pengobatan pasien Covid-19.

Efek samping obat ini dapat memengaruhi ritme jantung, jika digunakan dan dikombinasikan dengan obat yang juga sama-sama memiliki efek serupa, maka itu akan merugikan.

“Memang ada juga obat yang memberi interaksi dengan meningkatkan efek dari obat lain. Itu bagus, tetapi kalau peningkatan efeknya berlebihan, maka itu akan berbahaya,” sambung Prof Zullies.

Begitupun dengan obat untuk pasien Covid-19. Pada pasien Covid-19 dengan sakit ringan, biasanya akan diberikan obat antivirus, vitamin atau obat anti gejala.

“Akan tetapi, interaksi obat-obat ini bisa dihindari dengan mengatur cara penggunaan, misal diminum pagi dan sore, atau mengurangi dosis. Masing-masing interaksi obat itu ada mekanismenya sendiri-sendiri,” tegas Prof Zullies.