Beranda OASE Gaya Beli Masyarakat Saat Pandemi

Gaya Beli Masyarakat Saat Pandemi

Jakarta – Covid-19 telah melanda selama lebih dari setahun di dunia. Virus ini bermutasi dan membuat manusia mengalami berbagai kendala dalam menanggulanginya. Berbagai vaksin telah beredar di seluruh penjuru dunia dalam rangka menanggulangi penyebaran virus tersebut. Berbagai macam ahli dari berbagai macam bidang ikut serta dalam menanggulangi bahkan mencari obat yang tepat untuk meredakan bahkan menghilangkan corona virus dengan mengerahkan berbagai macam cara.

Seluruh umat manusia termasuk masyarakat Indonesia merasakan dampak dari covid-19 dalam segala hal dan segala aktivitas. Banyak hal dan juga aktivitas yang berubah sebelum adanya SARS-CoV-2 dan sesudah adanya SARS-CoV-2. Mulai dari aktivitas seperti sekolah dan perkuliahan yang dilakukan secara online dan perkantoran yang mengharuskan beberapa karyawan untuk WFH atau Work From Home. Setiap aktivitas tersebut melakukan perubahan dari sebelum dan sesudah adanya covid-19 dengan harapan agar virus tersebut tidak menyebar luas dan dapat di tanggulangi oleh perubahan aktivitas yang dilakukan. Tidak hanya masyarakat yang terkena dampak virus tersebut bahkan berdasarkan beberapa artikel yang saya baca sekitar pertengahan tahun 2020 salah satu brand internasional akan menutup kurang lebih 1.200 toko mereka yang tersebar di seluruh dunia dan beralih untuk fokus terhadap pemasaran online.

Sebelum adanya covid-19 belum banyak masyakarat yang memilih untuk belanja online atau online shopping. Mereka lebih memilih untuk belanja di store atau tokonya langsung. Karena jika mereka belanja di store atau tokonya langsung mereka dapat melihat barangnya langsung dan mencoba ukuran yang sesuai dengan kemauannya. Setelah adanya virus yang melanda, masyarakat berbondong – bondong merubah gaya beli mereka dari yang biasanya membeli di tokonya langsung menjadi membeli online. Contohnya, pelanggan yang suka membeli baju atau celana di tokonya langsung mengubah kebiasaannya menjadi belanja baju dan celana di online store toko tersebut atau di berbagai e-commerce yang tersedia. Masyarakat mengubah perilakunya sebagai pelanggan dengan tujuan supaya mereka terhindar dan tidak terkena virus yang baru saja muncul dan dikenal oleh manusia.

Perubahan dalam gaya beli masyarakat sebagai pelanggan sebelum dan sesudah adanya covid-19 tidak hanya dalam bidang atau sektor fashion tetapi juga dalam bidang makanan atau restaurant, pasar atau supermarket, bahkan saham atau stock juga terkena dampaknya, dan masih banyak bidang atau sektor yang terkena dampaknya juga. Pemasar beralih strategi dari startegi yang biasa digunakan di toko menjadi strategi online. Perusahaan yang sebelumnya tidak memiliki online store membuat website atau bahkan mendaftarkan perusahaannya di e-commerce yang tersedia. Sedangkan perusahaan yang sudah mempunyai online store menggemparkan halaman store mereka dengan berbagai cara seperti diskon, beli satu dapat satu atau buy one get one, dan seterusnya. Salah satu brand internasional yang telah disebutkan sebelumnya adalah salah satu perusahaan yang merubah pemasarannya menjadi online marketing atau digital marketing.

Perubahan perilaku pelanggan mengubah strategi setiap perusahaan karena perusahaan harus menyesuaikan keadaan dan juga keinginan pelanggan agar tetap bisa bersaing di bidangnya masing-masing. Perilaku pelanggan atau consumer behavior bisa berubah-ubah tergantung dari banyak hal. Marketing communications atau komunikasi pemasaran memiliki peran yang sangat penting dalam situasi seperti yang sedang terjadi sekarang ini agar tidak terjadi miss-communication atau komunikasi yang berjalan kurang baik sehingga pesan yang terkandung tidak tersampaikan dengan benar.

Perilaku pelanggan sangat berpengaruh terhadap perusahaan dan juga aspek-aspek yang terkait dengan perusahaan. “Pelanggan adalah raja” adalah satu kalimat yang sering terdengar oleh hampir seluruh perusahaan maupun pelanggan. Perilaku konsumen adalah salah satu faktor yang harus diketahui dan dipelajari oleh perusahaan agar perusahaan tidak salah dalm mengambil langkah dan juga mengambil keputusan. Situasi atau keadaan adalah external factor atau faktor yang tidak berasal dari dalam perusahaan yang tidak bisa dikontrol atau dikendalikan oleh perusahaan. Maka dari itu, perusahaan harus memiliki strategi dalam menanggapi situasi yang terjadi terutama perubahaan perilaku pelanggan yang terjadi karena situasi yang ada, contohnya adalah virus yang sedang dunia hadapi saat ini.

(Salsabila Adhisty A.R., Mahasiswa Program Studi Manajemen Internasional, FEB, Universitas Jenderal Soedirman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Must Read