Beranda Lifestyle Fashion Kenapa Banyak yang Malah Menyesal setelah Membeli Barang Mewah?

Kenapa Banyak yang Malah Menyesal setelah Membeli Barang Mewah?

JAKARTA: Berbelanja atau shopping barang-barang mewah dan bermerek merupakan salah satu hal yang mampu membuat banyak orang merasa bahagia, terutama kaum Hawa.

Namun, di balik kegiatan yang menyenangkan itu ternyata tidak sedikit orang yang malah berakhir dengan rasa bersalah. Apalagi jika setelah mereka berbelanja barang yang cukup mewah dan mahal.

Pada dasarnya berbelanja suatu barang, entah itu penting atau tidak, dipercaya akan membuat bahagia dan meningkatkan kualitas hidup. Namun sadarkah Anda bahwa perasaan bahagia dan puas setelah berbelanja ternyata tidak mampu bertahan lama?

Menurut sebuah penelitian di Boston Collage dan Harvard Business School, efek psikologis dari membeli barang mewah bisalah positif atau netral. Malah sebagian besar partisipan penelitian mengaku mereka justru merasa bersalah setelah membeli barang mewah. Padahal dalam studi sebelumnya, ditemukan bahwa barang mewah mampu membuat kepercayaan diri dan status sosial seseorang meningkat.

Nailya Ordabayeva selaku peneliti dan profesor dari Boston College’s Carroll School of Management menjelaskan, “Sebenarnya jumlah penelitian tentang bagaimaana sebenarnya perasaan seseorang setelah mengeluarkan banyak uang untuk berbelanj masihlah terbatas. Jadi kami merasa tertarik untuk menyelidiki bagaimana perasaan sebenarnya ketika orang berbelanja barang mewah, apakah mereka merasa puas dan percaya diri atau sebaliknya.”

Setelah melakukan penelitian terbaru, para peneliti pun merasa terkejut dengan hasilnya. Di balik perasaan senang karena telah membeli sabuk Gucci atau scarf Hermes, ternyata banyak yang merasakan kebimbangan dan sulit membedakan antara barang mewah dan kepribadian mereka sendiri. “Hal itulah nanti yang bisa mengerucut pada sindrom konsumsi barang mewah,” kata Ordabayeva.

Diketahui, dua pertiga dari 1.000 partisipan studi mengakui, terlepas dari besar kecilnya pendapatan, mereka mengaku membeli barang mewah malah membuat mereka merasa ‘palsu’.

Contohnya saja, artis Tanah Air Luna Maya yang sadar bahwa memiliki simpanan uang tenyata jauh lebih penting ketimbang barang mewah, terlebih di masa pandemi Covid-19 sekarang. “Gue lihat tas gue, sepatu gue, rasanya kok mendingan gue punya cash banyak daripada sepatu banyak,” ujar Luna.

Host Indonesia Next Top Model itu pun merasa memiliki barang mewah tidaklah berguna saat ini. Karena ia berpikir barang mewah itu akan digunakan ke mana dan tidak ada juga yang melihat juga karena ia berada di rumah setiap hari. “Masak pakai dari kamar ke dapur pakai high heels, pakai tas?” ucap perempuan berusia 38 tahun itu.

Salah satu toko yang menjual barang bermerek.

Maka itu, Luna berpendapat bahwa memiliki uang tunai adalah hal terbaik saat ini. Ia pun merasa pandemi Covid 19 juga telah yang membukakan matanya dan memberikan hikmah akan hal tersebut.

Meski begitu, Ordabayeva mengakui masih ada alasan valid untuk membeli barang mewah. “Nyatanya memang ada kaitan antara barang mewah dan pengakuan secara sosial. Misalnya saja saat Anda harus menghadiri wawancara kerja. Mengenakan barang mewah semisal jam tangan mampu membuat pewawancara merasa bahwa Anda telah bekerja keras dan berpenampilan menarik,” tambahnya.

Bagaimana dengan kamu, apakah kamu tipe yang puas atau malah merasa bersalah setelah membeli barang-barang mewah?



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Must Read