Takwa dan Iman

0
76

Media Guna. Takwa tidak sekadar bersifat lahiriah berupa ‘melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan’, tetapi juga harus mencakup dimensi hati: menyadari bahwa kemampuan kita melaksanakan kewajiban itu semata-mata berkat inayah Allah. Ada kesadaran hati.

Karena itu, tidak heran kalau pada suatu kesempatan Rasulullah saw. pernah bersabda, “At-taqwâ hâ hunâ.” Kalimat yang berarti ‘takwa ada di sini’ itu beliau ulang sampai tiga kali sambil menunjuk ke dada beliau yang menunjukkan bahwa ketakwaan bersumber dari dalam hati.

Pemahaman seperti ini juga kita temukan pada ayat Al-Quran antara lain firman Allah swt. yang maknanya: Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. (QS al-Hajj [22]: 37. Pada ayat ini, daging hewan kurban (fisik, lahiriah) diperhadapkan dengan ketakwaan (non-fisik, batiniah, bagian dalam), yang menandakan bahwa ketakwaan itu harus bersumber dari dalam hati yang bersih.

Pengertian seperti ini, bahwa ketakwaan harus memiliki aspek dalam atau aspek batin, juga kita temukan dalam pengertian tentang iman. Soal keimanan adalah soal hati.

Memang, dalam menyatakan keimanan kepada ajaran Nabi Muhammad saw., seseorang diharuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Tetapi, dua kalimat syahadat itu tidak ada gunanya kalau diucapkan begitu saja tanpa didasari oleh keyakinan di dalam hati.

Di sini kita lihat ada hubungan antara ketakwaan dengan keimanan, kedua-duanya harus bersumber dari dalam hati. Meski begitu, kita tidak bisa menyamakan begitu saja antara takwa dan iman. Ada perbedaannya. Di manakah perbedaannya?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita merenungkan firman Allah swt. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (QS Ali Imran [3]: 102). Pada ayat ini, Allah memerintah orang-orang yang beriman untuk bertakwa dengan sebenar-benar takwa.

Kita lihat, orang yang beriman disuruh untuk bertakwa. Itu artinya, tidak semua orang beriman adalah orang bertakwa. Ini menunjukkan bahwa orang beriman boleh jadi ada yang bertakwa dan boleh jadi juga ada yang tidak bertakwa. Bahkan, bisa saja keimanan seseorang begitu tinggi dan kuat, tapi ketakwaannya sangat rendah.

Makna yang hampir serupa dapat kita temukan pada ayat lain yang maknanya: Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. (QS al-A‘râf [7]: 96). Kita baca pada ayat ini ada kata beriman yang digandeng dengan kata bertakwa dengan menggunakan kata sambung ‘dan’ (bahasa Arab: wa).

Pakar-pakar bahasa mengatakan bahwa dua kata yang digabungkan dengan wa (dan), itu mesti menunjukkan bahwa kedua kata itu berbeda. Seperti contoh kalimatnya, “Kamu dan kamu saya beri tugas menghafal surah al-Wâqi‘ah,” misalnya, kita memahami bahwa ‘kamu’ yang pertama pasti bukan ‘kamu’ yang kedua. Kita memahami begitu, karena ada kata ‘dan’ di situ.

Sekali lagi, ayat ini menunjukkan bahwa keimanan dan ketakwaan adalah dua hal yang berbeda meski kedua-duanya punya hubungan sama-sama bersumber dari dalam hati.

Pertanyaan yang mungkin muncul adalah: kok bisa ada orang beriman tapi tidak bertakwa? Bisa. Seseorang yang mengakui dari hatinya bahwa ada Tuhan, Tuhan itu adalah Allah Yang Maha Esa, mengakui pula bahwa Tuhan mengutus nabi-nabi dengan membawa kitab suci dari-Nya, bahwa Allah juga memiliki malaikat dengan tugas-tugas tertentu, percaya pula bahwa kehiupan dunia pasti suatu saat akan berakhir dengan Kiamat lalu berganti dengan kehidupan baru, juga percaya pada takdir, dia adalah orang yang beriman.

Ketika orang yang seperti itu melaksanakan tugas kewajibannya dengan kesadaran, ia disebut orang beriman yang bertakwa. Tetapi, ketika dia tidak melaksanakan kewajibannya dan/atau tidak pula menjauhi larangan, dia disebut orang beriman yang tidak bertakwa.

Maka dari itu kita yang sudah lama menyadari dan meyakini rukun-rukun iman, menjadi orang yang beriman sekaligus bertakwa dengan melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang, dengan sepenuh hati, dengan kesadaran hati. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here