Media Guna. Kasus kematian yang menimpa George Floyd telah menuai aksi protes dari sebagian besar warga Amerika Serikat.

Aksi protes tersebut dilakukan sebagai gerakan untuk menolak ketidaksetaraan ras yang menimpa warga kulit berwarna di Amerika Serikat.

George merupakan pria berkulit hitam yang tewas setelah dibekuk oleh Derek Chauvin, polisi Minneapolis kulit putih, pada Senin (25/5/2020) lalu.

Lebih dari sepekan also unjuk rasa itu dilakukan. Ratusan ribu warga AS turun ke jalan menyerukan keadilan bagi Floyd. Unjuk rasa yang awalnya berlangsung damai, berujung rusuh dengan aksi kekerasan.

Beragam respon ditunjukkan polisi Paman Sam dalam menghadapi aksi tersebut. Mulai dari tindakan represif, hingga tindakan bersahabat dengan meminta maaf kepada peserta aksi atas kesalahan rekan sejawat mereka.

Sejauh ini, aksi telah memakan banyak korban jiwa. Termasuk beberapa toko yang dijarah oleh beberapa oportunis. Tercatat toko-toko ternama seperti Nike, Apple, Starbuck dan lainnya menjadi korban tindakan tidak bertanggung jawab ini.

Aksi solidaritas itu juga terjadi di Jepang, Perancis, New Zeland dan Inggris. Bahkan klub sepakbola Liverpool mengunggah foto mereka melakukan tindakan berlutut, saat sebelum mereka memulai sesi latihan.

Akai kekerasan polisi di Amerika itu membuat perusahaan teknologi untuk menyuarakan dukungan mereka kepada George dan pria berkulit hitam lainnya.

Twitter misalnya, sebagai bentuk protes atas peristiwa rasialisme tersebut, akun resmi platform jejaring sosial itu mengubah foto profil miliknya dari semula burung berwarna biru menjadi hitam.

Twitter

Tak hanya itu, Twitter beserta perusahaan saluran TV, seperti HBO, TBS, dan TNT, turut mengubah bio akun Twitter mereka dengan tagar #BlackLivesMatter.

Adapun Netflix, Amazon Studios, Hulu, Starz, Quibi, dan Twitch juga menyuarakan aksi dukungan anti-rasialisme lewat pengumuman yang diunggah melalui akun resmi Twitter milik mereka.

Dengan mendunianya aksi tersebut, apakah mungkin unjuk rasa ini akan terjadi di Indonesia?