Hakikat Takwa

0
158

Media Guna. Kata “takwa” boleh jadi merupakan kata yang paling sering kita dengar dan baca dalam konteks agama. Setiap kali salat Jumat, khatib selalu mengingatkan kita untuk meningkatkan ketakwaan. Begitu juga pada bulan Ramadan lalu, kata “takwa” sering sekali menjadi pembahasan ustadz.

Secara sederhana, takwa sering diartikan dengan ‘melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan’. Pengertian ini tidak keliru, tetapi agaknya masih terlalu umum dan hanya menyinggung aspek lahiriah, belum menyentuh aspek dalam kita.

Ada pengertian yang lebih mendalam lagi yaitu bahwa takwa adalah ‘melakukan ketaatan, berkat bimbingan Allah, dan mengharap pahala-Nya; dan meninggalkan maksiat, juga berkat bimbingan Allah, karena takut siksa Allah’.

Dari pengertian yang terakhir ini, sisi luar maupun sisi dalamnya sudah tercakup. Sisi luar adalah raga kita melakukan ketaatan (salat, puasa, zakat, dsb.), sisi dalamnya adalah hati kita berniat melakukan ketaatan itu karena Allah, menyadari bahwa ketaatan itu bisa kita lakukan berkat bimbingan Allah. Sekaligus dalam melakukannya kita mengharap balasan pahala dari Allah.

Karena itu, orang-orang yang tidak beriman tetapi melakukan kebaikan (misalnya: orang ateis menyumbang bantuan dana untuk orang-orang yang terdampak Covid-19), kebaikannya itu tidak termasuk kategori perbuatan taat kepada Allah. Perbuatannya juga dilakukan bukan karena ingin memperoleh pahala dari Allah. Perbuatan mereka tidak bisa dinamakan sebagai wujud dari takwa.

Sebagian orang yang mengambil jalan (tarekat) tasawuf yang berlebihan mengatakan bahwa beribadah kepada Allah tidak boleh karena mengharap pahala atau surga, juga tidak boleh karena takut siksa neraka, tetapi harus semata-mata beribadah kepada-Nya. Pandangan seperti ini ada benarnya walaupun tidak sepenuhnya benar.

Alasannya antara lain bahwa baik surga maupun neraka sama-sama makhluk Allah seperti kita. Untuk apa kita mengharap surga yang jelas-jelas makhluk seperti kita? Mengapa kita tidak mengharap Sang Khalik saja?

Sementara, di dalam Al-Quran sendiri kita temukan ayat yang mewanti-wanti kita untuk menjaga diri dari siksaan api neraka. Misalnya firman Allah swt. yang artinya: Jika kamu tidak (mampu) membuat (-nya) dan (pasti) kamu tidak akan (mampu) membuat (-nya), takutlah pada api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS al-Baqarah [2]: 24).

Di bagian lain kita dapat baca pula ayat lain yang maknanya: Takutlah kamu pada suatu hari (Kiamat) yang seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun, syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima, dan mereka tidak akan ditolong. (QS al-Baqarah [2]: 48).

Di sisi lain, Allah memang menjanjikan kepada orang-orang yang bertakwa bahwa mereka akan mendapat kenikmatan abadi di dalam surga.

Mari kita baca, misalnya, firman Alah swt. yang maknanya: Untuk orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (QS Al Imran [3]: 15).

Juga firman Allah pada ayat lain yang maknanya: Orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan sehingga apabila mereka telah sampai di sana dan pintu-pintunya telah dibuka, para penjaganya berkata kepada mereka, “Salâmun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu), berbahagialah kamu. (QS al-Zumar [39]: 72).

Dengan kata lain, takwa dapat kita maknai dengan menjadikan perbuatan baik kita sebagai pencegah kita dari siksa neraka. Dan makna ini sejalan dengan hadis Nabi saw. yang mengatakan, “Takutlah akan siksa neraka walaupun lantaran sebutir kurma.” (HR Bukhari dan Muslim).

Artinya, jangan gara-gara memakan makanan haram sekecil kurma kita mendapat siksa, atau semoga dengan perbuatan baik walau sebesar biji kurma pun kita berharap dapat masuk surga. Mudah-mudahan.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here