KKN di Tengah Pandemi

0
Gambar : www.datdut.com

Media Guna-Palembang. Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa, dengan pendekatan lintas keilmuan dan sektoral pada waktu dan daerah tertentu di Indonesia.

Pelaksanaan kegiatan KKN biasanya berlangsung antara satu sampai dua bulan dan bertempat di daerah setingkat desa.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi di Indonesia telah mewajibkan setiap perguruan tinggi untuk melaksanakan KKN. Sebagai kegiatan intrakurikuler yang memadukan tri dharma perguruan tinggi yaitu: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Tujuan diadakannya KKN adalah agar perguruan tinggi tidak menjadi lembaga yang terpisah dari kepentingan masyarakat.

Kegiatan ini diharapkan bisa menjadi jembatan yang dapat mengaitkan kemampuan iptek dan program pembangunan di masyarakat. Pengetahuan mahasiswa yang di dapat selama di bangku perkuliahan diharapkan dapat membantu memecahkan persoalan di tengah masyarakat.

Lantas Bagaimana pengaplikasiannya di tengah pandemi?

Setiap universitas memiliki kebijakannya masing-masing mengenai pengadaan KKN. Pada Selasa (26/05), ketua lembaga penenlitian dan pengabdian kepada masyarakat (LP2M) UIN Raden Fatah Palembang Dr.Syefriyeni, M.Ag. Mengeluarkan surat edaran terkait sosialisasi pendaftaran program Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Beliau  menuturkan program KKN ini Berbasis Riset dan Pengembangan Potensi Lokal Berkarakter Pandemi Covid-19 Tahun 2020. Program ini meliputi (KKN-dari Rumah (KKN-DR) / KKN-Kerja Sosial (KKN-KS) / KKN Relawan Wilayah). Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan petunjuk teknis yang tersedia.

“KKN DR sederhananya adalah KKN yang dilakukan di rumah melalui IT/daring/menulis jurnal/buku/seni dan lain lain. KKN KS membantu penanganan Covid-19 jika diizinkan orang tua dengan syarat sprotokol yang ketat khusus mahasiswa sains dan kesehatan.

Dan KKN Relawan bertugas sebagai relawan di desanya atau wilayahnya mungkin di kota yang tergabung dengan petugas relawan resmi yang dipandu dosen pembimbing lapangan (DPL) masing-masing, melalui koordinasi LP2M” ujarnya.

Tercatat hingga tanggal 28 Mei 2020, pasien terjangkit dikonfirmasi sebanyak 921 orang. Dengan jumlah pasien meninggal dunia sebanyak 25 orang.