Menilik Makam Massal Tragedi Sampit

0

Media Guna-Sampit. Terletak di jalan Sudirman km 13,8 Sampit, Kalimantan Tengah. Dengan jalan setapak menuju padang ilalang, di sinilah berdiri tegak lima nisan makam korban tragedi Sampit di semayamkan. Makam dengan lebar Ukuran 50 M x 50 M ini menjadi salah satu saksi bisu keganasan masa itu.

Korban tragedi itu tergeletak di pinggir jalan, di parit-parit dan mengambang di sungai Mentaya dengan mengeluarkan bau busuk dan anyir. Pemerintah daerah Sampit kemudian mengevakuasi serta memakamkan tumpukan jenazah yang menggunung tersebut, dalam beberapa lubang galian dengan menggunakan alat berat ekskavator. Di bawah kelima nisan itu telah di kuburkan jenazah-jenazah etnis Madura.

“Kuburan masal dikuburnya kaya buang sampah” cerita Abdul Malik kepada kontributor Media Guna. “Ingat aku harinya, minggu  dan senin. Madura menguasai Sampit tahun 2000. Madura menyisir wilayah Sampit mencari Dayak untuk dibunuh. Selasa sudah mulai merapat warga Dayak yang ada di Kalimantan, sekitar 400 suku Dayak bersatu. Maka pecahlah perang suku, dan akhirnya Dayak berkuasa di Sampit.

Namun tidak sampe disitu bahkan Madura dibrantas dari yang masih dalam perut, sampe yang sudah tua tanpa pandang bulu. Sebagian ada yang ngungsi di POLRES untuk dipulangkan ke Madura, namun ribuan nyawa melayang, di tv hanya dikabarkan 300 orang saja.”  Sambung Abdul Malik

Abdul Malik sendiri adalah salah satu warga sampit yang menyaksikan tragedi berdarah tersebut.

Tragedi sampit tahun 2001 sangat memilukan untuk diingat, terutama bagi warga pinggir sungai Mentaya. Tertulis di nisan korban massal 19 febuari 2001, tentang bagaimana kejadian tersebut sangat membekas di hati warga Sampit. Kisah kelam tragedi perang saudara setanah air yang merengut sedikitnya ratusan korban jiwa.

Tragedi memilukan ini berawal dari ketegangan etnis Madura dengan etnis Dayak di tanah Sampit pada tahun 1999, ketegangan ini mencapai puncaknya pada 18 februari 2001.

Pengepungan, pengejaran, pembakaran dan pembantaian terjadi setiap harinya. Tragedi sampit ini terkenal dengan kesadisannya, karena mayoritas korban terbunuh dipenggal kepalanya.

Tercatat 57.000 orang Madura diungsikan ke pulau Jawa untuk menghindari bertambahnya jumlah korban.

Sembilan belas tahun berlalu, suasana kota Sampit kini telah aman dan kondusif. Kerukunan antar etnis Madura dan Sampit telah terjalin kembali. Pemerintah setempat  juga membangun monumen perdamaian di tengah kota Sampit untuk mengenang dan menjaga komitmen perdamaian.

Kontributor Media Guna : Khomsatun Hasanah