Teladan Memaafkan

0

Ketika tersebar berita dusta yang menimpa ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, beberapa kerabat Abu Bakar ternyata terlibat andil dalam menyiarkan fitnah yang keji tersebut.

Maka ia bersumpah tidak akan membantu mereka lagi selama-lamanya. Karena selama ini beliau radhiyallahu’anhu bukan hanya membantu kerabat-kerabatnya, bahkan menanggung sebagian nafkah mereka.

Sikap Abu Bakar ini tentu wajar dan manusiawi. Bisa kita bayangkan, kerabat yang selama ini ditopang nafkahnya, boro-boro membantu, justru turut andil menfitnah putri tercintanya berzina.

Namun sikap Abu Bakar ini ditegur oleh menantu beliau, baginda Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam. Nabi menyadarkan Abu Bakar untuk selalu bersikap pemaaf seraya kemudian membaca ayat yang baru saja diwahyukan :

Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan diantara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabatnya yang miskin dan yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin agar Allah meng ampunimu? Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nur: 22)

Ketika mendengar ini Abu Bakar ash Shidiq menangis lalu berkata : “Tentu ya Allah aku berharap ampunan-Mu…”

Kemudian beliau bangkit membagikan nafkah kepada seluruh kerabat termasuk yang telah menyakiti hatinya. Abu Bakar berkata kepada mereka : “Aku tidak akan memutuskan nafkah kalian selama-lamanya.”

Sikap Abu Bakar yang memilih memaafkan daripada menghukum kerabat-kerabat yang menyakitinya ini kelak memiliki hikmah yang besar.

Ketika kelak beliau menjadi khalifah, para kerabatnya tersebut menjadi orang-orang menyokong pemerintahan beliau. Mereka berada di front terdepan ketika memerangi orang-orang murtad dan para pembangkang zakat.

Oleh : Ustadz Ahmad Syahrin Thoriq Lc (Pengasuh Ponpes Subulana Kaltim)