Disindir Paloh ada Partai Pancasilais tapi Sinis, PDIP: Terlalu Emosional

0

Jakarta – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) menilai Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh terlalu emosional, saat menanggapi ‘kelakar’ Presiden Joko Widodo, saat memberikan kata sambutan pada Hari Ulang Tahun ke-55 Partai Golkar beberapa waktu lalu.

Ketua Umum NasDem Surya Paloh curhat tentang adanya pihak yang mencurigai makna di balik rangkulan eratnya terhadap Presiden PKS Sohibul Iman dan mengaitkannya dengan nilai-nilai Pancasila.

Politikus PDI P Andreas Hugo Pareira menilai ucapan Paloh terlalu emosional. “Ini berawal dari ‘sindiran’ Pak Jokowi soal kemesraan pelukan antara Pak SP (Surya Paloh) Ketum NasDem dan SI (Sohibul Iman), Ketum PKS, yang mungkin lebih pada ekspresi kedekatan perkawanan antar-elite, yang kemudian ditafsirkan berbagai pihak dengan berbagai interpretasi, terutama mengarah ke 2024. Reaksi SP terhadap sindiran Presiden pun menurut saya terlalu emosional, membawa diskursus seolah persoalan ‘pelukan’ ini masuk dalam wilayah ideologis partai-partai pendukung Jokowi-Ma’ruf,” kata Andreas kepada wartawan, Sabtu (9/11/2019).

Menurut Andreas, komentar Nokowi dalam kapasitasnya sebagai presiden, menandakan harapan seusai pembentukan kabinet, partai pendukungnya tetap solid meski ada yang menganggap komposisi kabinet tak sesuai dengan harapan.

“Rangkulan SP dan SI adalah Jokowi yang dalam kapasitasnya sebagai presiden tentunya berharap banyak, setelah pembentukan kabinet, meskipun tentu tidak memenuhi harapan semua partai pendukung, tetapi pemerintahan tetap solid. Sehingga, meskipun hubungan antar-elite partai dinamis, soliditas koalisi tetap terjaga,” lanjut Andreas.

Malah, Andreas memastikan tak ada satu partai pun yang menilai rangkulan Paloh ke Sohibul bermakna ideologi, karena semua partai tahu dinamika antar-elite parpol saat ini merupakan hubungan pertemanan.

“Membangun pertemanan sebagai basis kesepahaman kerja sama politik sehingga, menurut saya, tuduhan SP soal partai Pancasilais pun menjadi terlalu emosional dan sama sekali tidak bermakna ideologis,” pungkas Andreas.

Sebelumnya, Paloh berbicara tentang kecurigaan pihak tertentu terkait rangkulan politik. Semakin melebar, Paloh mengkaitkan kecurigaan dengan Pancasila.

“Semua penuh dengan kecurigaan, maka kita semakin menjauhi nilai-nilai yang namanya Pancasila. Pancasila sebagai pegangan kita,” kata Paloh saat sambutan Kongres II Partai NasDem di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (8/11).

Paloh mengatakan, meski Indonesia menganut nilai Pancasila, namun ada partai yang mengaku-ngaku paling Pancasilais dan nasionalis. Dia meminta partai tersebut membuktikan kepancasilaisan partai tersebut kepada rakyat.

“Kalau partai yang masih mengundang cynical propaganda yang kosong, mengajak berkelahi satu sama yang lainnya, ah yang pasti itu bukan Pancasilais itu,” sindir bos media tersebut